Widget for website from webstatsdomain

myislam.blogspot.com-Google pagerank and Worth

Jan 15, 2007

Kritik Matan Hadist Shahih Bukhari vs Al Qur'an

MENGUJI KESHAHIHAN HADIST DARI MATANNYA

Bagaimanakah kita menguji validitas atau ke-shahih-an sebuah hadis? Untuk kepentingan penelitian terhadap sumber kedua Islam ini, ulama hadis menetapkan lima syarat yang harus dipenuhi oleh suatu hadis;
§ Sanad-nya bersambung (muttashil),
§ periwayatnya adil (‘adl),
§ dhabith,
§ tidak terdapat kejanggalan (syudzudz), dan
§ tidak terdapat cacat (‘illah).
Tiga syarat pertama berkaitan dengan sanad, dan dua syarat terakhir, di samping berkaitan dengan sanad, juga berkenaan dengan matan. Mayoritas ulama hadis menyepakati lima hal tersebut sebagai syarat yang harus dipenuhi dalam menetapkan ke-shahih-an sebuah hadis.

Yang mendasari perlunya kritik matan hadist, adalah:
I. Firman Allah QS Al Ahqaaf (46:9):
Artinya: Katakanlah: "Aku bukanlah Rasul yang pertama di antara Rasul-rasul dan aku tidak mengetahui apa yang akan diperbuat terhadapku dan tidak (pula) terhadapmu. Aku tidak lain hanyalah mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku dan aku tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan yang menjelaskan".
II. Mukhadimah Kitab Hadist dalam Fashal ke-32
Tidak ada satupun daripada kitab-kitab hadist yang tidak terdapat didalamnya hadist-hadist lemah. Ada yang sedikit dan ada yang banyak, kecuali Bukhari dan Muslim dapat dikatakan bahwa hampir semua hadist yang tersebut dalam dua kitab itu, shahihur-riwayat walaupun ada hadist-hadist yang maknanya perlu diperbincangkan

Kritik terhadap sanad hadis sebenarnya telah dilakukan sejak awal terjadinya periwayatan hadis. Pada masa Nabi, para sahabat biasa meriwayatkan hadis yang didengar atau yang diterimanya dari Nabi kepada para sahabat lainnya yang tidak hadir dalam majlis-majlis Nabi. Apabila seorang sahabat meriwayatkan hadis, sementara dia tidak melihat secara langsung atau mendengar sendiri dari Nabi, maka dengan sendirinya dia akan menyebutkan periwayat yang menjadi sumber hadis tersebut. Dan para sahabat memiliki kriteria masing-masing dalam menilai kredibilitas seorang periwayat yang menyampaikan hadis kepada mereka.

Selanjutnya, kritik sanad ini mengalami perkembangan menjelang akhir abad 1 H. Peristiwa fitnah atau terbunuhnya Usman Bin Affan pada tahun 36 H., kemudian Husein bin Ali pada tahun 61 H., yang menyebabkan lahirnya faksi-faksi politik di kalangan umat Islam, mempunyai pengaruh yang besar terhadap perkembangan kritik hadis, khususnya kritik sanad. Hal ini karena setiap kelompok berusaha mengemukakan pernyataan-pernyataan yang dinisbatkan kepada Nabi Saw., untuk memperoleh legitimasi atau dukungan terhadap kelompok mereka. Dalam kondisi seperti ini, kritik sanad hadis menjadi salah satu bagian yang sangat penting dalam menetapkan keotentikan hadis Nabi Saw., sehingga dalam perkembangan selanjutnya telah melahirkan cabang ilmu khusus dalam ilmu hadis yang disebut al-jarh wa al-ta’dil. Ilmu inilah yang digunakan ulama untuk menilai kualitas para periwayat dalam sebuah sanad dalam kaitannya dengan diterima atau tidaknya sebuah hadis.

Sementara itu, penelitian terhadap matan hadis belum banyak dilakukan oleh ulama hadis. Hal ini bisa dilihat dari masih minimnya kitab-kitab yang membahas kritik matan secara khusus. Tampaknya, para ulama lebih memfokuskan diri dalam penelitian sanad hadis dan menyusun kitab-kitab yang berkaitan dengannya. Bila dalam penelitian sanad hadis para ulama telah menyusun berbagai kitab yang secara khusus membahas hal itu, maka dalam penelitian matan, selain masih memerlukan pengembangan kajian

Sebenarnya, kritik matan hadis bukan merupakan hal baru. Kritik yang dilakukan oleh Umm al-mukminin ‘Aisyah, Umar bin al-Khattab, dan beberapa sahabat lainnya menunjukkan bahwa kritik matan hadis telah terjadi sejak masa Nabi Saw. dan para sahabatnya. Pada masa ini, metode kritik matan masih simple, karena Nabi masih hidup dan otentitas sebuah hadis ditentukan langsung oleh Nabi Saw. Para sahabat yang tidak mendengar hadis secara langsung dari Nabi, dapat menanyakan dan meminta penjelasan langsung dari Nabi Saw. Akan tetapi setelah Nabi wafat, hal itu tidak dapat lagi dilakukan. Metodologi kritik matan yang digunakan para sahabat setelah Nabi wafat adalah dengan menanyakan kepada sahabat lain yang ikut mendengarkan hadis dari Nabi Saw. atau membandingkannya dengan ayat-ayat Alquran.

Metode yang disebutkan terakhir ini rupanya masih dijadikan pegangan oleh beberapa ulama modern dalam melakukan kritik terhadap matan hadis. Mereka beranggapan bahwa terdapat banyak hadis yang dari segi sanad termasuk kategori shahih, namun dari segi matan dianggap bertentangan dengan Alquran. Karena bertentangan dengan Alquran itulah, maka hadis tersebut dianggap dla’if atau diduga dla’if, meskipun sanadnya shahih dan termaktub dalam kitab-kitab yang dikenal hanya memuat hadis-hadis shahih, seperti shahih al-Bukhari dan shahih Muslim.

Secara umum, beberapa tokoh tersebut berkesimpulan bahwa sejauh ini penelitian terhadap hadis hanya dititikberatkan pada al-naqd al-khariji (kritik ekstern), yaitu sanad, dan bukan pada al-naqd al-dakhili (kritik intern), yaitu matan hadis.

Dalam penelitian hadis, sanad dan matan mempunyai kedudukan yang sama penting. Ke-shahih-an sebuah hadis tidak dapat hanya ditentukan oleh ke-shahih-an sanad, tetapi juga harus disertai dengan matan yang sama shahih, karena, menurut para ahli hadis, ke-shahih-an sanad tidak menjamin ke-shahih-an matan dan demikian pula sebaliknya. Bila sebuah hadis sanadnya shahih, tapi matannya tidak shahih, atau sebaliknya, maka hadis tersebut tidak dapat dihukumi shahih. Dengan kata lain, sebuah hadis hanya dapat dinyatakan berkualitas shahih, apabila telah betul-betul diteliti dan diketahui tidak ada syadz maupun ‘illah dalam matan dan sanad hadis tersebut.

Kaidah mayor dalam penelitian matan hadis ada dua macam, yaitu tidak terjadi syadz dan tidak terdapat ‘illah. Dua hal ini merupakan kaidah umum yang disepakati ulama dalam menilai ke-shahih-an suatu matan hadis. Namun para ulama tidak mengemukakan klasifikasi unsur-unsur kaidah minornya secara rinci dan sistematik sebagaimana mereka jelaskan dalam klasifikasi untuk sanad. Secara umum, kerangka metodologis kritik matan dapat dijelaskan dalam beberapa langkah berikut:

Pertama, meneliti matan dengan terlebih dahulu melihat kualitas sanadnya. Dalam urutan kegiatan penelitian hadis, kritik sanad didahulukan dari kritik matan. Tapi tidak berarti bahwa sanad lebih penting dari matan. Kedua bagian riwayat itu tetap sama-sama penting. Hanya saja, penelitian terhadap matan baru dianggap perlu apabila sanad dari matan hadis yang bersangkutan itu telah jelas qualified. Tanpa adanya sanad, suatu matan tidak dapat dijamin otentisitasnya sebagai sabda Nabi Saw.

Kedua, meneliti susunan redaksional matan hadis-hadis yang semakna. Dalam periwayatan hadis terjadi periwayatan secara makna (al-riwayah bi al-ma’na). Hal ini dibuktikan dengan banyak matan hadis yang kandungan maknanya sama dengan sanad yang sama shahih-nya pula, namun tersusun dengan redaksi yang berbeda. Menurut ulama hadis, perbedaan lafadz yang tidak sampai mengakibatkan perbedaan makna, sepanjang sanadnya sama-sama shahih, masih dapat diterima. Di samping itu, perbedaan redaksional dalam hadis-hadis Nabi bisa juga disebabkan terjadinya kesalahan dalam periwayatan. Betatapun tsiqah seorang periwayat, ia tetap manusia biasa yang dapat melakukan kekeliruan dalam meriwayatkan hadis. Jadi, untuk meneliti ke-shahih-an sebuah matan hadis, diperlukan metode komparatif (muqaranah), yaitu membandingkan otentisitas suatu matan dengan matan-matan hadis lainnya yang semakna dan sama-sama mempunyai sanad yang shahih.

Ketiga, meneliti kandungan matan hadis. Dalam hal ini, seorang peneliti perlu memperhatikan matan-matan dan dalil-dalil lain yang mempunyai topik masalah yang sama. Apabila kandungan matan hadis yang dikomparasikan ternyata sama dengan matan-matan lainnya atau dalil-dalil lain yang kuat atau minimal tidak bertentangan, maka kegiatan penelitian telah dapat dianggap selesai. Akan tetapi bila yang terjadi sebaliknya, yaitu kandungan matan tersebut tampak bertentangan dengan matan atau dalil lain yang kuat, maka kegiatan penelitian diarahkan pada upaya penyelesaian hadis yang tampak bertentangan tersebut.

Saya meyakini bahwa tidak mungkin sebuah hadis Nabi yang shahih bertentangan dengan hadis Nabi yang lain yang sama-sama shahih ataupun dalil-dalil Alquran, sebab semua yang disampaikan oleh Nabi, baik berupa hadis maupun ayat-ayat Alquran sama-sama merupakan kebenaran yang berasal dari Allah Swt. Apabila terdapat sejumlah hadis Nabi yang tampak secara tekstual bertentangan dengan hadis yang lain atau dengan ayat Alquran, maka perlu dilakukan penyelesaian dengan menggunakan metode-metode yang telah dirumuskan dan diterapkan oleh ulama hadis dalam ilmu mukhtalaf al-hadis.

Keempat, langkah terakhir yang harus dilakukan oleh seorang peneliti adalah menyimpulkan hasil penelitian matan. Kesimpulan tentang ke-shahih-an atau ke-dla’if-an suatu matan yang diteliti mesti didasarkan pada argumen-argumen yang jelas. Apabila matan dan sanad memiliki kualitas yang sama, baik sama-sama dla’if atau shahih, maka dalam kesimpulan harus disebutkan kualitas hadis tersebut, berdasarkan penelitian terhadap kualitas sanad dan matannya. Ke-shahih-an sebuah hadis tidak dapat hanya ditentukan dengan otentisitas sanad, tapi juga validitas matannya. Dengan kata lain, kritik sanad dan matan dilakukan secara bersamaan dalam menentukan keshahihan sebuah hadis Nabi Saw.

Hadis-hadis yang berstatus mutawatir sehingga nilai kepastian wurudnya sama seperti Alquran. Dan bila orang mengingkari hadis-hadis mutawatir ini, maka ia telah keluar dari Islam dengan kata lain, bila seorang mengingkari Alquran sebagai wahyu dari Allah Swt. atau mengingkari hadis-hadis mutawatir, maka hal itu menyebabkan ia menjadi kafir. Tetapi meragukan keabsahan hadis-hadis ahad sebagai ucapan yang betul-betul disampaikan Nabi Saw tidak akan membuat seseorang menjadi kafir.

Bila seseorang mempersoalkan otentisitas dan validitas suatu hadis dengan argumen-argumen yang kuat maka hal itu merupakan sikap kritis yang tidak semestinya dihalangi, karena bukan sesuatu yang tabu. Dan sikap seperti itu bukan hal baru di kalangan ulama Islam. Rata-rata ulama pernah menolak suatu hadis yang dianggapnya tidak shahih dengan alasan-alasan tertentu yang jelas dan dapat diterima meskipun sebagian ulama lainnya menilai hadis tersebut shahih. Wallahu a’lam.

AL QUR’AN SEBAGAI SUMBER UTAMA HUKUM ISLAM

Sekalipun al-Qur'an dan as-Sunnah/al-Hadits sebagai sumber hukum Islam namun di antara keduanya terdapat perbedaan-perbedaan yang cukup prinsipil. Perbedaan-perbedaan tersebut antara lain:
1. Al-Qur'an nilai kebenarannya adalah qath'i (absolut), sedangkan al-Hadits adalah zhanni (kecuali hadits mutawatir).
2. Seluruh ayat al-Qur'an mesti dijadikan sebagai pedoman hidup, tetapi tidak semua hadits kita jadikan sebagai pedoman hidup. Sebab di samping ada sunnah yang tasyri' ada juga sunnah yang ghairu tasyri'. Di samping ada hadits yang shahih (kuat) ada pula hadits yang dha'if (lemah),dan seterusnya.
3. Al-Qur'an sudah pasti otentik lafazh dan maknanya, sedangkan hadits tidak.
4. Apabila al-Qur'an berbicara tentang masalah-masalah aqidah atau hal-hal yang ghaib maka setiap Muslim wajib mengimaninya, tetapi tidak demikian apabila masalah-masalah tersebut diungkapkan oleh hadits (ada yang wajib diimani dan ada yang tidak).

Di samping itu tidak sedikit pula kesalahan-kesalahan yang berkembang di kalangan masyarakat Islam, berupa anggapan terhadap pepatah-pepatah dalam bahasa Arab yang dinilai mereka sebagai hadits. Walaupun ditinjau dari isi materinya tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip pokok ajaran Islam, tetapi kita tetap tidak boleh mengatakan bahwa sesuatu ucapan itu sebagai ucapan Rasulullah kalau memang bukan sabda Rasulullah. Sebab sabda Rasulullah dalam Shahih Bukhari hadist No.80
Dari Abu Hurairah ra.,: katanya Nabi saw. bersabda: Namailah dirimu dengan namaku dan jangan memakai gelarku.” “Siapa yang bermimpi melihat aku dalam tidurnya, sebenarnyalah ia melihatku, karena setan tidak mampu menjelma seperti aku. "Dan siapa yang sengaja berdusta atas nmakau maka biarkalah dia menempati tempatnya di neraka."

Dalam memahami hadist (perkataan Muhammad saw.) segala apa yang diucapkannya semata-mata mengikuti wahyu, seperti dalam Firman Allah QS Al Ahqaaf (46:9):
Artinya: Katakanlah: "Aku bukanlah Rasul yang pertama di antara Rasul-rasul dan aku tidak mengetahui apa yang akan diperbuat terhadapku dan tidak (pula) terhadapmu. Aku tidak lain hanyalah mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku dan aku tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan yang menjelaskan".

Dalam Mukadimah Kitab Hadist Pasal ke-32: Kitab ash-Shahih Bukhari dan Kitab ash-Shahih Muslim dapat dijamin keshahihannya ditinjau dari segi sanad dan rawi. Sedang dari segi matan masih perlu diperbincangkan; yaitu kita dapat memberikan seleksinya dengan pedoman-pedoman di atas. Beberapa langkah praktis dalam usaha seleksi hadits, Suatu materi hadits dapat dinilai baik apabila materi hadits itu tidak bertentangan dengan al-Qur'an atau hadits lain yang lebih kuat, realita, fakta sejarah, dan prinsip-prinsip pokok ajaran Islam. Untuk sekedar contoh dapat kita perhatikan hadits-hadits yang dinilai baik tapi bertentangan isi materinya dengan al-Qur'an:

i. Hadits yang mengatakan bahwa "Seorang mayat akan disiksa Tuhan karena ratap tangis ahli warisnya", adalah bertentangan dengan firman Allah "Wala taziru waziratun wizra ukhra" yang artinya "Dan seseorang tidak akan memikul dosa orang lain" (al-An'am:164).
ii. Hadits yang mengatakan "Barangsiapa yang meninggal dunia dalam keadaan meninggalkan hutang puasa, maka hendaklah dipuasakan oleh walinya", adalah bertentangan dengan firman Allah " wa allaisa lil insani illa ma-sa'a", yang artinya "dan seseorang tidak akan mendapat pahala apa-apa kecuali dari apa yang dikerjakan dia sendiri" (an-Najm: 39).

5 comments:

  1. mau tanya, ada tdk situs yang kita bisa mengecek ke sahih-an suatu hadis, beserta penjelasan mengapa sahih atau tdkny hadis tersebut..trmksh...

    ReplyDelete
  2. Kalau bicara situs yg mengecek keshahihan hadist belum ada yg fokus ke "pengecekan" tetapi dari dua kitab hadist :Bukhari & Muslim, dari segi perawinya dipastikan shahih, tetapi dari segi redaksionalnya/matan/arti perlu dikaji dengan dicrosscheck dengan isi Al-Qur'an, intinya arti hadist yang jelas bertentangan dengan Al Qur'an adalah dhaif meskipun dari kitab hadist shahih.

    ReplyDelete
  3. as.wr.wb.
    saya mau tanyak?
    selain hadis diats yang bertentngan, ada hadist yg lain tidak?
    mohn bantuannya y. thanks

    ReplyDelete
  4. assalaamu alaaikum, terimakasih bgi para penulis. tulisan ini sangat bermanfaat n teruslah melengkapinya hingga mendekati kesempurnaan.demi terjeganya kesucian ajaran islam.wassalaam

    ReplyDelete
  5. Anonymous10:56 AM

    naah gini nih gw demen... orang sibuk percayain hadis nabi tapi nabi sendiri minta supaya tetep dirujuk ke quran aja. maklumlah di QS 17:41 kan udah bilang bahwa Allah selalu mengulang2 perinatan yg ada di dalam quran tapi yang terjadi malah banyak orang yg akan lari. idem qs 25;30

    basic kalo mau percaya itu banyak teman.... di quran Allah dah ngomong (baca Firman) kalo quran itu tidak ada keragu2annya (QS2:2)
    skrg SEBERAPA YAKIN ttg quran itu sendiri. Jelas2 SELURUH isi quran itu tidak ada keragu2annya (baca: ini Allah yg jamin..!!!)

    contoh kecil
    di QS 5:6 wudhu disuruh Allah cuma basuh muka, tangan mpe siku, sapulah kepala, kaki sampe mata kaki.....
    nah KONON kata nabi atau skrg kita nambahin pake idung telinga , 3 kali dll...
    pertanyaan gw... apa iya nabi ngajarin yg gak diajar Allah ? QS 6:115

    di QS 10:15 nabi bilang bahwa dia GAK PANTAS mengganti apa yg dia ud dipesenin ama Allah..

    semoga bermanfaat agar kita JANGAN menjadi seperti di QS 5:68... sedih bacanya gw...

    ReplyDelete