Oct 1, 2009

RAHMAT atau AZAB : untuk negeri yang penduduknya mengaku beriman


Allah swt telah menggolongkan perilaku orang beriman dalam suatu negeri yaitu:
1. Penduduk negeri yang beriman dan bertaqwa
2. Penduduk negeri yang beriman tetapi mendustakan

Ciri orang yang beriman dan bertaqwa akan selalu mengikuti petunjuk Al Qur'an
QS Al An’am 6: 155.
Artinya: Dan Al-Quran itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, Maka ikutilah Dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat.

QS Al Ankabut 29:51. Dan Apakah tidak cukup bagi mereka bahwasanya Kami telah menurunkan kepadamu Al kitab (Al Quran) sedang Dia dibacakan kepada mereka? Sesungguhnya dalam (Al Quran) itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman.

Dengan mengikuti petunjuk Al Qur'an dengan mempelajari, memahami, mentaati, mengikuti seseorang akan mendapatkan Rahmat dari Allah swt.

Jaminan kerahmatan dari Allah swt berupa:
- KEAMANAN
QS. Ali Imran 3: 103. Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.
- KEMAKMURAN
QS. Al A’raaf 7: 96. Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.

Ath Thalaq 65: 2. Apabila mereka telah mendekati akhir iddahnya, Maka rujukilah mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah. Demikianlah diberi pengajaran dengan itu orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat. Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar.
3. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah Mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.

- AMPUNAN
QS. Saba 15. Sesungguhnya bagi kaum Saba' ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka Yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (kepada mereka dikatakan): "Makanlah olehmu dari rezki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan yang Maha Pengampun".
- KEBERHASILAN
QS. Yusuf 12 :
54. Dan raja berkata: "Bawalah Yusuf kepadaKu, agar aku memilih Dia sebagai orang yang rapat kepadaku". Maka tatkala raja telah bercakap-cakap dengan Dia, Dia berkata: "Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan Tinggi lagi dipercayai pada sisi kami".
55. Berkata Yusuf: "Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan".
56. Dan Demikianlah Kami memberi kedudukan kepada Yusuf di negeri Mesir; (dia berkuasa penuh) pergi menuju kemana saja ia kehendaki di bumi Mesir itu. Kami melimpahkan rahmat Kami kepada siapa yang Kami kehendaki dan Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.
57. Dan Sesungguhnya pahala di akhirat itu lebih baik, bagi orang-orang yang beriman dan selalu bertakwa.

Sedangkan ciri orang yang mendustakan adalah mengikuti hawa nafsu:

QS Maryam 19: 59. Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, Maka mereka kelak akan menemui kesesatan,

QS Al Furqan 25: 43. Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya. Maka Apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?,
44. Atau Apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).

Mendustakan keimanan dengan mengikuti hawa nafsu akan membawa ke arah Azab/Bencana/Murka Allah yang Maha Kuasa. Beberapa kejadian yang akan ditimpakan Allah swt kepada mereka yang memperturutkan hawa nafsu:
1. KEHANCURAN
QS. Al Mu’minun 23: 71. Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan (Al Quran) mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu.
2. KERUSAKAN
QS. Ar Rum 30: 41. Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).
42. Katakanlah: "Adakanlah perjalanan di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang terdahulu. kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah)."
43. Oleh karena itu, hadapkanlah wajahmu kepada agama yang Lurus (Islam) sebelum datang dari Allah suatu hari yang tidak dapat ditolak (kedatangannya): pada hari itu mereka terpisah-pisah.

3. PERTIKAIAN
QS. Al An’am 6: 65. Katakanlah: " Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian kamu keganasan sebahagian yang lain. Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti agar mereka memahami(nya)"

4. KEGAGALAN
QS. Al Qalam 68; 17. Sesungguhnya Kami telah mencobai mereka (musyrikin Mekah) sebagaimana Kami telah mencobai pemilik-pemilik kebun, ketika mereka bersumpah bahwa mereka sungguh-sungguh akan memetik (hasil)nya di pagi hari,
18. Dan mereka tidak menyisihkan (hak fakir miskin),
19. Lalu kebun itu diliputi malapetaka (yang datang) dari Tuhanmu ketika mereka sedang tidur,
20. Maka jadilah kebun itu hitam seperti malam yang gelap gulita.
21. Lalu mereka panggil memanggil di pagi hari:
22. "Pergilah diwaktu pagi (ini) ke kebunmu jika kamu hendak memetik buahnya".
23. Maka Pergilah mereka saling berbisik-bisik.

PEMBELOKAN PEMAHAMAN ISLAM

1. Belajar Al Qur'an
Targetbelajar Al-Qur'an semestinya "MEMBACA - MEMAHAMI - MENGIKUTI". Tetapi
Dibelokkan menjadi "Belajar membaca - Khatam - Mendapat Pahala yang banyak
QS 12:2
Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.
QS 16:155
Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.

2. Ke-KEKAL-an NERAKA
Dalam Al Qur'an seseorang yagn masuk neraka "KEKAL, TIDAK MATI - TIDAK BISA KELUAR, TIDAK BISA PINDAH"
Dibelokkan oleh faham Yahudi dan Nasrani " Masuk Neraka sementara dan akan pindah ke surga
QS 2:80-82
80. Dan mereka berkata: "Kami sekali-kali tidak akan disentuh oleh api neraka, kecuali selama beberapa hari saja." Katakanlah: "Sudahkah kamu menerima janji dari Allah sehingga Allah tidak akan memungkiri janji-Nya, ataukah kamu hanya mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?"
81. (Bukan demikian), yang benar: Barangsiapa berbuat dosa dan ia telah diliputi oleh dosanya, mereka Itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.
82. Dan orang-orang yang beriman serta beramal saleh, mereka itu penghuni surga; mereka kekal di dalamnya.
QS 2: 23-24
23. Tidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang telah diberi bahagian Yaitu Al kitab (Taurat), mereka diseru kepada kitab Allah supaya kitab itu menetapkan hukum diantara mereka; kemudian sebahagian dari mereka berpaling, dan mereka selalu membelakangi (kebenaran).
24. Hal itu adalah karena mereka mengaku: "Kami tidak akan disentuh oleh api neraka kecuali beberapa hari yang dapat dihitung". mereka diperdayakan dalam agama mereka oleh apa yang selalu mereka ada-adakan.

3. Siksa Qubur
Orang yang meninggal merupakan tidur panjang dengan gambaran nikmat atau siksa sesua amalan di dunia, merasa seebntar tiba-tiba dibangkitkan.
Dibelokkan menjadi "Cerita siksa kubur dan nikmat kubur"
QS 30: 55-57
55. Dan pada hari terjadinya kiamat, bersumpahlah orang-orang yang berdosa; "Mereka tidak berdiam (dalam kubur) melainkan sesaat (saja)". seperti Demikianlah mereka selalu dipalingkan (dari kebenaran).
56. Dan berkata orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan dan keimanan (kepada orang-orang yang kafir): "Sesungguhnya kamu telah berdiam (dalam kubur) menurut ketetapan Allah, sampai hari berbangkit; Maka Inilah hari berbangkit itu akan tetapi kamu selalu tidak meyakini(nya)."
57. Maka pada hari itu tidak bermanfaat (lagi) bagi orang-orang yang zalim permintaan uzur mereka, dan tidak pula mereka diberi kesempatan bertaubat lagi.

4. Imam Mahdi yang berarti "pemimpin yang diberi petunjuk dan dapat memberikan petunjuk (mengajarkan dan berpegang pada Al Qur'an -sami'na wa 'ata'na-, membawa umat kepada Al Qur'an
Dibelokkan menjadi cerita " mam Mahdi adalah orang yagn akan melawan Dajjal yang menyesatkan"
5. Seharusnya "Sholat dapat merubah tabiat buruk" dibelokkan "yang dikejar dalam sholat adalah pahala'

Sep 29, 2009

Idul Fitri Bersama Rasulullah


"Aku telah datang kepada kalian, sementara kalian memiliki 2 (dua) hari dimana kalian bermain-main pada kedua hari tersebut di masa jahiliyah. Sesungguhnya Allah telah menggantikan bagi kalian dengan dua hari yang lebih baik darinya, yaitu Hari Raya 'Idul Fitri dan 'Idul Adha." (H.R. Ahmad 25: 408, Abu Dawud No.1004)

Idul Fitri secara syar'i merupakan salah satu hari besar umat Islam, yang diperbolehkan didalamnya mengungkapkan perasaan bahagia dan bersenang-senang pada hari itu.

Ibnu Taimiyah derkata: "Id' adalah sebutan untuk sesuatu yang selalu terulang berupa perkumpulan yang bersifat massal, baik tahunan, mingguan maupun bulanan. (Fathul Majid h.289 tahqiq Al-Furayyan)

QS Al 'Alaa 87:14-15
14. Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman),
15. Dan Dia ingat nama Tuhannya, lalu Dia sembahyang.

Dalam ayat tersebut Allah akan menggolongkan sebagai orang yang beruntung yaitu orang yang berzakat (Membersihkan diri), Orang yang selalu takbir, tasbih, tahlil secara lisan selalu mengingat Allah dan mengerjakan sholat, rangkaian ini hanya kita temui dalam Ibadah Idul Fitri yaitu adanya : ZAKAT-TAKBIR-SHOLAT (Rangkaian yang bersambung)

Seperti halnya sholat jum;at yang merupakan fardlu/WAJIB, Abu Hanifah dan salah satu riwayat dari Imam Ahmad. Imam Syafi'i mengatakan dalam Mukhtashar Al-Muzani:
Barang siapa memiliki kewajiban untuk mengerjakan Sholat Jum'at, wajib baginya untuk menghadiri sholat 2 hari Raya. Dan ini tegas bahwa hal itu wajib 'ain" (Fathul Baru Ibnu Rajab 6/75-76)

Adapun sunnah-sunnah dalam shalat 'Ied adalah:
Sebelumnya wajib membayar Zakat Fitrah berupa bahan makanan
- Mandi sebelum shalat Ied
- Memakai wewangian
- Memakai pakaian terbaik (untuk sholat)
- Makan sebelum berangkat sholat 'ied
- Bertakbir pada saat keluar rumah menuju tempat shalat
Seusai sholat ied mengucapkan ucapan selamat yaitu:
"Taqabalallahu minna wa minkum = Semoga Allah menerima (amal) dari kalian dan dari kamu"

Mendatangi tempat sholat ied yaitu di mushola = tempat sholat berupa tanah lapang dan bukan mesjid.

Semoga kita bisa berhari raya seperti berhari rayanya Rasulullah saw.

(Sumber :Buletin Dakwah /DDII DKI Jakarta 6 Syawal 1430 H, Dwi Budiman)

Aug 14, 2009

Peringatan Imam Asy-Syafi'i jika yg dikatakan bertentangan dg AlQur'an & AsSunnah

Imam asy-Syafi'i berkata:
”Jika kalian mendapatkan di dalam kitabku apa yang bertentangan dengan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,
maka berkatalah dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
dan tinggalkanlah apa yang ...aku katakan.”
(Al-Harawi di dalam Dzammul Kalam,3/47/1)

Rasanya, tidak ada seorang pun yang diberi kemudahan oleh Allah di dalam menuntut ilmu, yang tidak mengetahui sosok Imam Syafi'i. Sosok salah seorang ulama di antara empat madzhab terkenal di muka bumi ini, bila tidak dikatakan, yang paling menonjol dan memiliki keunggulan tersendiri dibandingkan ulama madzhab lainnya.
Dialah, Imam Asy-Syafi’i yang madzhabnya lahir setelah melewati fase pematangan dari dua madzhab sebelumnya yang boleh dikatakan berbeda pandangan di dalam banyak hal.
Pembelaan beliau terhadap sunnah Rasulullah, sehingga mereka yang selalu menisbatkan dirinya kepada beliau dapat mengeta-hui secara persis sosok beliau dan tidak hanya sekedar menyatakan bermadz-hab ‘Syafi’i’ alias menisbatkan pendapat-nya kepada beliau, tetapi jauh dari sikap beliau di dalam berpegang teguh kepada As-Sunnah dan memberantas bid’ah.
Dengan begitu, kita telah memberikan hak beliau sebagaimana layaknya dan tidak menzhalimi apalagi menisbatkan diri kepadanya secara dusta.
Di sini juga perlu dipilah antara istilah
· madzhab Asy-Syafi’i (dinisbat-kan kepada Imam Asy-Syafi’i, sang Imam) dan
· madzhab Asy-Syafi’iyyah (dinisbatkan kepada pendapat para pengikut Imam Asy-Syafi’i dan belum tentu pendapat sang Imam).

Biografi Singkat Imam Asy-Syafi’i
Beliau bernama Muhammad bin Idris bin al-‘Abbas bin ‘Utsman bin Syafi’ bin As-Saib bin ‘Ubaid bin ‘Abd Yazid bin Hasyim bin ‘Abdul Muththalib bin ‘Abdi Manaf. Jadi, dari sisi nasab, bertemu dengan nasab Rasulullah n. Karena itu pula, beliau sering dijuluki dengan “Al-Imam Al-Muththalib Al-Hasyimiy Al-Qurasyi”.
Dilahirkan pada tahun 150 H di kota Ghazzah (Gaza) di Palestina, yaitu tepat di tahun wafatnya salah seorang Imam empat madzhab lainnya, Abu Hanifah.
Ayah beliau meninggal saat beliau masih di ayunan, sehingga tumbuh di dalam kondisi yatim dan faqir. Sedangkan ibunya, berasal dari suku Azd, salah satu suku di Yaman. Beliau wafat di Mesir pada tahun 204 H.

Pembelaannya terhadap As-Sunnah
Imam Asy-Syafi’i dijuluki oleh kalangan Ahlu Al-Hadits sebagai Nashir As-Sunnah (pembela As-Sunnah). Ini tentu saja merupakan penghargaan tertinggi terhadap sosok beliau dan bukan hanya sekedar simbol belaka. Sikap, ucapan dan karya-karya tulis beliau menjadi saksi untuk itu.
Di masa hidup beliau, timbul bermacam-macam aliran keagamaan yang mayoritas selalu menyerang As-Sunnah. Mereka dapat dibagi menjadi tiga kelompok: Pertama, mengingkari As-Sunnah, secara keseluruhan. Ke dua, tidak menerima As-Sunnah kecuali bila semakna dengan Al-Qur’an. Ke tiga, menerima As-Sunnah yang mutawatir saja dan tidak menerima selain itu alias menolak Hadits Ahad.

Beliau menyikapi ketiga kelompok tersebut dengan tegas. Terhadap kelompok pertama, beliau menyatakan bahwa tindakan mereka tersebut amat berbahaya karena dengan begitu rukun Islam, seperti shalat, zakat, haji dan kewajiban-kewajiban lainnya menjadi tidak dapat dipahami bila hanya berpijak kepada makna global dari Al-Qur’an kecuali dari makna secara etimologisnya saja. Demikian pula terhadap kelompok ke dua, bahwa implikasinya sama saja dengan kelompok pertama.
Sedangkan terhadap kelompok ke tiga, beliau membantah pendapat mereka dengan argumentasi yang valid (tepat) dan detail terperinci. Di antara bantahan tersebut adalah sebagai berikut:
1. Di dalam mengajak kepada Islam, Rasulullah mengirim para utusan yang jumlahnya tidak mencapai angka mutawatir. Maka bila memang angka mutawatir tersebut urgen sekali, tentu Rasulullah tidak merasa cukup dengan jumlah tersebut sebab pihak yang dituju oleh utusan tersebut juga memiliki hak untuk menolak mereka dengan alasan tidak dapat memperca-yai dan mengakui berita yang dibawa oleh mereka.
2. Bahwa di dalam peradilan perdata dan pidana yang terkait dengan harta, darah dan nyawa harus diperkuat oleh dua orang saksi padahal yang menjadi landasannya adalah khabar (hadits) yang diriwayatkan oleh jumlah yang tidak mencapai angka mutawatir alias Hadits Ahad, tetapi meskipun demi-kian, Asy-Syari’ (Allah Subhanahu wa Ta'ala ) tetap mewajibkan hal itu.
3. Nabi membolehkan orang yang mendengar darinya untuk menyampai-kan apa yang mereka dengar tersebut, meskipun hanya oleh satu orang saja. Beliau Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda:
“Mudah-mudahan Allah memperbaiki akhlaq dan derajat seseorang (seorang hamba) yang mendengar hadits dari kami lantas menghafalnya hingga menyampaikannya”. (H.R. Abu Daud)
4. Para shahabat menyampaikan hadits-hadits Rasulullah n secara individu-individu dan tidak menyarat-kan harus diriwayatkan oleh orang yang banyak sekali.
Demikianlah di antara bantahan beliau di dalam menegaskan perlunya menerima Hadits Ahad.
Sedangkan ucapan-ucapan beliau tentang perlunya berpegang teguh kepada As-Sunnah, di antaranya adalah:
"Sedangkan ucapan-ucapan beliau tentang perlunya berpegang teguh kepada As-Sunnah, di antaranya adalah:
“Seseorang sudah pasti kehilangan satu sunnah dari Rasulullah dan akan jauh darinya, maka betapa pun perkataan yang telah aku katakan atau suatu prinsip yang telah aku gariskan di dalamnya yang berasal dari Rasulullah namun bertentangan dengan apa yang aku ucapkan; maka ucapan (yang harus dipegang) adalah apa yang diucapkan oleh Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam , dan ia adalah peganganku (pendapatku juga)”.
“Kaum Muslimin bersepakat (secara ijma’) bahwa barangsiapa yang sudah jelas baginya suatu sunnah (hadits) dari Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam ; maka tidak halal baginya untuk meninggalkannya lantaran ucapan seseorang”. (Di dalam riwayat yang lain terdapat, “…maka ikutilah ia (hadits tersebut) dan jangan menoleh lagi kepada ucapan/pendapat seseorang”)
“Bila di dalam kitabku kalian mendapatkan hal yang bertentangan dengan sunnah/hadits Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam ; maka berpeganglah dengan sunnah Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam dan tinggalkan apa yang telah aku ucapkan (pendapatku) tersebut”
“Bila sesuatu (hadits) shahih, maka ia adalah madzhab/pendapatku
“Kalian (diungkapkan di hadapan Imam Ahmad bin Hanbal dan para shahabatnya-pen) lebih mengetahui perihal hadits dan para periwayatnya daripada aku; bila ada hadits yang shahih, maka beritahukanlah kepadaku apa pun ia, baik (berasal) dari seorang dari Kufah, Bashrah atau Syam, hingga aku bisa menemuinya bila (hadits tersebut memang) shahih”
“Setiap masalah yang di dalamnya terdapat hadits yang shahih dari Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam menurut Ahli Hadits (tetapi) bertentangan dengan apa yang aku katakan (pendapatku); maka aku rujuk darinya (mencabut pendapatku dari masalah tersebut), baik selagi aku masih hidup ataupun setelah aku mati”
“Setiap apa yang aku ucapkan (pendapatku); lantas ada hadits dari Nabi n yang shahih bertentangan dengan ucapan/pendapatku tersebut, maka hadits Nabi lebih utama (untuk diikuti) dan janganlah kalian bertaqlid kepadaku”
“Setiap hadits yang berasal dari Nabi , maka ia adalah ucapan/pendapatku meskipun kalian tidak mendengarnya (langsung) dariku”
Dengan beberapa nukilan ucapan Imam Asy-Syafi’i diatas tentang perlunya berpegang kepada As-Sunnah, kiranya dapat menyentuh hati kita yang paling dalam, sehingga dapat bersikap seperti sikap beliau di dalam menerima hadits yang sudah jelas keshahihannya dan meninggalkan taqlid buta

Aug 13, 2009

Hakikat Merdeka bagi Umat


Manusia benar-benar diposisikan oleh Allah swt. sebagai pengelola kehidupan di bumi.

Tetapi harus dipahami di sini bahwa manusia dalam mempertahankan hakikat kemuliaan ini akan berhadapan dengan tantangan dalam dirinya. Allah swt. menceritakan dalam surah An Nazi’at tantangan ini berupa: (a) cinta dunia (b) tunduk kepada nafsu. Siapa yang menang atas kedua tantangan ini ia merdeka. Namun siapa yang terbelenggu dalam kedua tantangan tersebut ia tidak merdeka. Merdeka artinya terbebas dari belenggu cinta dunia dan nafsu. Bukan merdeka seseorang yang dipermainkan nafsunya dan begelimang dalam gemerlap dunia. Tetapi sayang, makna ini sekarang terbalik. Di sana-sini terdengar teriak kemerdekaan dengan bersenang-senang dalam nafsu dan dunia. Sungguh ini suatu kenyataan yang sangat menyedihkan,

Tidak akan merdeka penduduk sebuah negeri yang tunduk kepada nafsu dan cinta dunia. Mengapa?
(1) Nafsu akan membawa manusia kapada dosa-dosa dan kedzaliman. Bila ke kedzaliman terus berlangsung Allah swt. akan mencabut keberkahan. Bila keberkahan tidak ada, maka penderitaan akan terus menimpa penghuni sebuah negeri.
(2) Nafsu akan menyeret manusia kepada kerakusan. Kerakusan melahirkan kekejaman terhadap kemanusiaan. Tidak sedikit pembantaian terhadap kemanusiaan terjadi hanya karena karakusan terhadap harta dan kekuasaan.
(3) Nafsu membuat manusia menjadi sekedar binatang. Bila manusia lebih didominasi oleh kebinatanganya ia akan lebih kejam dan lebih parah dari binatang. Allah berfiman: “ulaaika kal an’aam balhum adhal”

Begitu juga cinta dunia, ia termasuk tantangan yang selalu membuat manusia tidak merdeka. Mengapa?
(1) Dengan cinta dunia manusia menjadi hambanya. Bila manusia menjadi hambanya maka ia akan sibuk dengannya, siang dan malam melebihi kesukannya kapada Allah swt.
(2) Cinta dunia mematikan hati nurani. Seringkali hati menjadi keras karena mengagungkan dunia. Sebab dengan mengagungkan dunia, ia akan lupa kepada akhirat. Karenanya dalam Al Qur’an Allah swt. berfirman: “bal tu’tsiruunal hayaatad dunyaa wal aakhiratu khairuw wa abqaa.”

Jelasnya kemerdekaan bukan hanya sebuah makna keterbebasan dari belenggu penjajahan. Melainkan lebih dari itu keterbebasan dari belenggu nafsu dan cinta dunia. Bila makna ini benar-benar tercermin dalam pribadi sebuah bangsa, maka hakikat kemerdekaan akan benar-benar tercapai. Mengapa? Bisa dipastikan bahwa dengan terbebasnya dari belenggu nafsu dan cinta dunia keadilan akan tegak dengan jujur. Tegaknya keadilan akan melahirkan keamanan. Keamaman akan membuat semua kehidupan menjadi produktif dan sejahtera.

Itulah mengapa Al Qur’an dari awal sampai akhir selalu menekankan pentingnya manusia bersungguh-sungguh mentaati Allah swt. dan melawan nafsu. Sebab hanya dengan mentaati Allah swt. ia akan benar-benar merdeka. Silahkan baca ayat-ayat yang menceritakan ahli neraka, selalu saja sebabnya adalah karena ikut nafsu dan mengutamakan dunia atas akhirat.

Lalu silahkan baca ayat-ayat yang menceritakan ahli surga, pasti selalu sebabnya adalah karena bersungguh-sungguh mentaati Allah swt. dan bersungguh-sungguh mengendalikan nafsu. Kemerdekaan hakiki bukan artinya kebebasan sebebas-bebasnya. Melainkan kejujuran dalam mejalankan hidup bedasarkan fitrah. Dan fitrah adalah iman. Maka dengan ikut fitrah berati kemerdekaan benar-benar terbukti. Tidak akan pernah merdeka penduduk sebuah negeri yang jauh dari fitrahnya. Wallahu a’lam bish shawab.
Source : http://www.dakwatuna.com/2008/hakikat-kemerdekaan

Merasa Selalu Diawasi Allah ... Tanda Keberhasilah Shaum

Kapan kita merasa diawasi Allah.... Kadang-kadang, Sering, Selalu, Senantiasa...
Kajian kali ini sangat urgen sekali untuk direnungi sekaligus diamalkan, sebab hanya dengan begitu semua amalan kita akan dapat bernilai. Betapa tidak, bukankah ketika melakukan suatu amalan, seorang hamba selalu berharap agar diganjar oleh Allah dan dinilai-Nya ikhlash karena-Nya bila amalan itu baik dan bila amalan itu buruk, pastilah seorang hamba takut ada yang mengetahuinya. Padahal semua itu pastilah diketahui oleh Allah sebab Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Karena itu, sudah sepantasnyalah seorang hamba merasa dirinya selalu diawasi oleh Allah sehingga semua amalannya terjaga dan dijalankan dengan sebaik-baiknya. Ini semua, tentunya berkat penjagaan seorang hamba terhadap Rabbnya di mana buahnya, Rabbnya pun akan selalu menjaganya.

Dari Ibn ‘Abbas RA., dia berkata, “Suatu hari aku berada di belakang Nabi SAW., lalu beliau bersabda, ‘Wahai Ghulam, sesungguhnya ku ingin mengajarkanmu beberapa kalimat (nasehat-nasehat), ‘Jagalah Allah, pasti Allah menjagamu, jagalah Allah, pasti kamu mendapatinya di hadapanmu, bila kamu meminta, maka mintalah kepada Allah dan bila kamu minta tolong, maka minta tolonglah kepada Allah. Ketahuilah, bahwa jikalau ada seluruh umat berkumpul untuk memberikan suatu manfa’at bagimu, maka mereka tidak akan dapat memberikannya kecuali sesuatu yang telah ditakdirkan Allah atasmu, dan jikalau mereka berkumpul untuk merugikanmu (membahayakanmu) dengan sesuatu, maka mereka tidak akan bisa melakukan itu kecuali sesuatu yang telah ditakdirkan Allah atasmu. Pena-pena (pencatat) telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.” (HR. at-Turmudzy, dia berkata, ‘Hadits Hasan Shahih’. Hadits ini juga diriwayatkan Imam Ahmad)

Urgensi Hadits

Al-Hafizh Ibn Rajab RAH., berkata, “Hadits ini mencakup beberapa wasiat agung dan kaidah Kulliyyah (menyeluruh) yang termasuk perkara agama yang paling urgen. Saking urgennya, sebagian ulama pernah berkata, ‘Aku sudah merenungi hadits ini, ternyata ia begitu membuatku tercengang dan hampir saja aku berbuat sia-sia. Sungguh, sangat disayangkan sekali bila buta terhadap hadits ini dan kurang memahami maknanya.” (Lihat, Jaami’ al-‘Uluum, Jld.I, h.483)

Kosa Kata

Makna perkataannya:
Di belakang Nabi : yakni di atas kendaraannya
Wahai Ghulam : yakni bocah yang belum mencapai usia 10 tahun
Jagalah Allah : yakni jagalah aturan-aturan-Nya (Hudud-Nya) dan komitmenlah terhadap segala perintahnya serta jauhilah segala larangannya
Pena-pena (pencatat) telah diangkat dan
lembaran-lembaran telah kering : yakni takdir-takdir telah ditetapkan dan telah dicatat di Lauh al-Mahfuuzh

Pesan-Pesan Hadits

1. Hadits di atas menunjukkan perhatian khusus Nabi SAW., terhadap umatnya dan kerja karas beliau di dalam menumbuhkan mereka di atas ‘aqidah yang benar dan akhlaq mulia. Di sini (dalam hadits) beliau mengajarkan si bocah ini –yang tak lain adalah Ibn ‘Abbas- beberapa nasehat dalam untaian yang singkat namun padat makna.

2. Di antara isi wasiat ini adalah agar menjaga Allah Ta’ala, yaitu dengan menjaga Hudud-Nya, hak-hak, perintah-perintah dan larangan-larangan-Nya. Menjaga hal itu dapat direalisasikan dengan melaksanakan semua perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya dan tidak melanggar apa yang diperintahkan dan diizinkan-Nya dengan melakukan apa yang dilarang-Nya. Allah Ta’ala berfirman, “Inilah yang dijanjikankepadamu, (yaitu) kepada setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi memelihara (semua peraturan-peraturan-Nya). (Yaitu) orang yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertaubat.” (Q.s.,Qaaf:32-33)

3. Di antara hal yang terdapat perintah agar menjaganya secara khusus adalah shalat sebagaimana firman-Nya, “Jagalah segala shalat(mu), dan (jagalah) shalat Wustha.” (Q.s.,al-Baqarah:238), dan thaharah (kesucian) sebagaimana bunyi hadits Rasulullah SAW., “Beristiqamahlah (mantaplah) sebab kamu tidak akan mampu menghitung-hitung. Dan ketahuilah bahwa sebaik-baik pekerjaan kamu adalah shalat sedangkan yang bisa menjaga wudlu itu hanya seorang Mukmin.” (HR.Ibn Majah). Di antaranya juga adalah sumpah sebagaimana firman-Nya, “Dan jagalah sumpahmu.” (Q.s., al-Maa`idah:89)

4. Di antara penjagaan yang diberikan oleh Allah adalah penjagaan-Nya terhadapnya di dalam kehidupan dunia dan akhirat:
a. Allah menjaganya di dunia, yaitu terhadap badannya, anaknya dan keluarganya sebagaimana firman-Nya, “Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah.” (Q.s., ar-Ra’d:11). Ibn ‘Abbas RA., berkata, “Mereka itu adalah para malaikat yang menjaganya atas perintahAllah. Dan bila takdir telah tiba, mereka pun meninggalkannya.” (Dikeluarkan oleh ‘Abduurrazzaq, al-Firyaaby, Ibn Jarir, Ibn al-Mundzir dan Ibn Abi Haatim sebagai yang disebutkan di dalam kitab ad-Durr al-Mantsuur, Jld.IV, h.614). Allah juga menjaganya di masa kecil, muda, kuat, lemah, sehat dan sakitnya.

b. Allah juga menjaganya di dalam agama dan keimanannya. Dia menjaganya di dalam kehidupannya dari syubhat-syubhat yang menyesatkan dan syahwat yang diharamkan.

c. Allah juga menjaganya di dalam kubur dan setelah alam kubur dari kengerian dan derita-deritanya dengan menaunginya pada hari di mana tiada naungan selain naungan-Nya

5. Di antara penjagaan Allah lainnya terhadap hamba-Nya adalah menganugerahinya ketenangan dan kemantapan jiwa sehingga dia selalu berada di dalam penyertaan khusus Allah. Mengenai hal ini, Allah berfirman ketika menyinggung tentang Musa dan Harun AS., “Janganlah kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku berserta kamu berdua; Aku mendengar dan melihat.” (Q.s., Thaaha:46) Demikian juga dengan yang terjadi terhadap Nabi dan Abu Bakar ash-Shiddiq saat keduanya berhijrah dan berada di gua, Rasulullah SAW., bersabda, “Apa katamu terhadap dua orang di mana Yang Ketiganya adalah Allah? Janganlah kamu bersedih, sesungguhnya Allah beserta kita.” (HR.Bukhari, Muslim dan at-Turmudzy)

6. Seorang Muslim wajib mengenal Allah Ta’ala, ta’at kepada-Nya dan selalu mengadakan kontak dengan-Nya dalam semua kondisinya sebab orang yang mengenal Allah di dalam kondisi sukanya, maka Allah akan mengenalnya di dalam kondisi sulitnya dan saat dia berhajat kepada-Nya

7. Terkadang ada orang yang tertipu dengan kondisi kuat, fit, muda, sehat dan kayanya namun sesungguhnya nasib orang yang demikian ini hanyalah kerugian, kesia-siaan dan celaka

8. Seorang harus selalu antusias untuk memperbanyak meminta pertolongan kepada Allah dan memohon kepada-Nya dalam semua kondisi dan situasi yang dihadapinya. Hendaklah dia tidak memohon kepada selain-Nya terhadap hal tidak ada yang mampu melakukannya selain Allah seperti meminta kepada para wali yang shalih, orang mati dan sebagainya. Allah berfirman, “Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu pula kami meminta tolong.” (Q.s., al-Fatihah:5)

9. Sesungguhny apa-apa yang menimpa seorang hamba di dunia, baik yang mencelakakan dirinya atau yang menguntungkannya; semuanya itu sudah ditakdirkan atasnya. Dan tidaklah menimpa seorang hamba kecuali takdir-takdir yang telah dicatatkan atasnya di dalam kitab catatan amal sekalipun semua makhluk berupaya untuk melakukannya (mencelakan dirinya atau memberikan manfa’at kepadanya). Allah berfirman, “Katakanlah, sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami.” (Q.s.,at-Taubah:51)

10. Bila seorang hamba telah mengetahui bahwa tidak akan ada yang dapat menimpanya baik berupa kebaikan, keburukan, hal yang bermanfa’at atau pun membahayakannya kecuali apa yang telah ditakdirkan oleh Allah darinya, serta mengetahui bahwa seluruh upaya yang dilakukan semua makhluk karena bertentangan dengan hal yang ditakdirkan tidak akan ada gunanya sama sekali; maka ketika itulah dia akan mengetahui bahwa hanya Allah semata Yang memberi mudlarat, Yang menjadikan sesuatu bermanfa’at, Yang Maha Memberi atau pun Menahannya. Sebagai konsekuensi dari semua itu, seorang hamba mestilah mentauhidkan Rabbnya dan menunggalkan-Nya dalam berbuat keta’atan dan menjaga Hudud-Nya.

11. Seorang Muslim harus menghadapi takdir-takdir Allah yang tidak mengenakkannya dengan penuh keridlaan dan kesabaran agar bisa meraih pahala atas hal itu. Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang bersabar akan diganjari pahala mereka dengan tanpa hisab (perhitungan).” (Q.s., az-Zumar:10). Dan dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW., bersabda, “Sungguh aneh kondisi seorang Mukmin; sesungguhnya semua kondisinya adalah baik, jika ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur; maka itu adalah baik baginya. Dan bila ia ditimpa hal yang tidak menguntungkannya (kemudlaratan), ia bersabar; maka itu adalah baik (pula) baginya.” (HR.Muslim)

12. Seorang Muslim tidak boleh dihantui keputusasaan dan pupus harapan terhadap rahmat Allah ketika mengalami suatu problem atau musibah. Ia harus bersabar dan mengharap pahala dari Allah atas hal itu serta bercita-cita agar mendapatkan kemudahan (jalan keluar) sebab sesungguhnya kemenangan itu bersama kesabaran dan bersama kesulitan itu ada kemudahan

(SUMBER: Silsilah Manaahij Dawraat al-‘Uluum asy-Syar’iyyah –al-Hadiits- Fi`ah an-Naasyi`ah, karya Prof.Dr.Faalih bin Muhammad ash-Shaghiir, h.104-109)

Aug 11, 2009

Mengukur keberhasilan Shaum Ramadhan


Sahum berbeda dengan puasa.

Menggali arti keduanya dari segi etimologi; dapat diartikan sebagai berikut:
PUASA berarti menyiksa diri dengan harapan tuhan/dewa/yang disembah menaruh kasihan sehingga keinginannya dikabulkan
SHAUM berarti 'secara fisik' berhenti makan, minum dan melakukan hubungan seks di siang hari ; sedangkan 'secara psikis' merupakan pendidikan dan pelatihan pengendalian hawa nafsu.

Jadi, tidak dianggap shaum, jika hanya menahan diri dari makan dan minum, sedangkan hawa nafsunya tidak dapat dikendalikan antara lain melakukan : kebohongan, marah yang tidak terkendali, gemar ghibah/menghasut/gosip, berkelahi, bertengkar, mengolok-olok dan berbuat curang.

Shaum bertujuan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas ketaqwaan [Q.S> Al baqarah 2:183] sehingga pada akhirnya terwujud dengan menahan diri baik secara fisik & psikis.

Indikator peningkatan iman pada bulan Ramadhan :
- Masjid penuh sesak
- Tadarus al Qur'an sampai qatam
- Perasaan selalu diawasi penuh oleh Allah swt.
- Pemurah
- Bangun Malam untuk Qiyamul Lail

Diharapkan keberhasilan selama Ramadhan dapat dipertahankan/dilestarikan setelah berakhirnya Bulan Ramadhan untuk 11 bulan kedepan

Dampak keberhasilan ibadah di bulan Ramadhan akan dirasakan ;
1. Semua ibadah bukan sebagai BEBAN kewajiban tetapi sebagai KEBUTUHAN, sehingga akan menjadi ringan dalam menjalankan ibadah
2. Pengendalian diri terjaga; dapat diupamakan tangannya tangan Allah ; matanya mata Allah (Majaz/perumpamaan)
3. Berkeyakinan bahwa ibadahnya akan mengantarkan kebahagiaan ke negeri Akherat

Mar 13, 2009

AQIDAH AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH

Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah memiliki ciri-ciri sebagai berikut.

[1] Sumber pengambilan bersih dan akurat. Hal ini karena aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah berdasarkan Kitab dan Sunnah serta Ijma’ para Salafush Shalih, yg jauh dari keruh hawa nafsu dan syubhat.

[2] Ia ialah aqidah yg berlandaskan penyerahan total kpd Allah dan Rasul-Nya. Sebab aqidah ini ialah iman kpd sesuatu yg ghaib. Karena itu, beriman kpd yg ghaib mrpk sifat orang-orang mukmin yg paling agung, sehingga Allah memuji mereka : ” Kitab (Al-Qur’an) ini tdk ada keraguan pada ; petunjuk bagi orang yg bertakwa, (yaitu) mereka yg beriman kpd yg ghaib”. [Al-Baqarah : 2-3]. Hal itu krn akal tdk mampu mengetahui hal yg ghaib, juga tdk dpt berdiri sendiri dalam memahami syari’at, krn akal itu lemah dan terbatas. Sebagaimana pendengaran, penglihatan dan kekuatan manusia itu terbatas, demikian pula dgn akalnya. Maka beriman kpd yg ghaib dan menyerah sepenuh kpd Allah ialah sesuatu yg niscaya.

[3] Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah ialah aqidah yg sejalan dgn fithrah dan logika yg benar, bebas dari syahwat dan syubhat.

[4] Sanad bersambung kpd Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sahabat, tabi’in dan para imam, baik dalam ucapan, peruntukan maupun keyakinan. Ciri ini banyak diakui oleh para penentangnya. Dan memang -Alhamdulillah- tdk ada suatu prinsip pun dari aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah yg tdk memiliki dasar Al-Qur’an dan As-Sunnah atau dari Salafus Shalih. Ini tentu berbeda dgn aqidah-aqidah bid’ah lainnya.

[5] Ia ialah aqidah yg mudah dan terang, seterang matahari di siang bolong. Tidak ada yg rancu, masih samar-samar maupun yg sulit. Semua lafazh-lafazh dan makna jelas, bisa dipahami oleh orang alim maupun awam, anak kecil maupun dewasa. Ia ialah aqidah yg berdasar kpd Al-Qur’an dan As-Sunnah. Sedangkan dalil-dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah laksana makanan yg bermanfaat bagi segenap manusia. Bahkan seperti air yg bermanfaat bagi bayi yg menyusu, anak-anak, orang kuat maupun lemah.

[6] Selamat dari kekacauan, kontradiksi dan kerancuan. Betapa tdk, ia ialah bersumber kpd wahyu yg tak mungkin datang kpd kebatilan, dari manapun datangnya. Dan kebenaran tdk mungkin kacau, rancu dan mengandung kontradiksi. Sebaliknya, sebagian membenarkan sebagian yg lain. Allah berfirman : “Kalau sekira Al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendptkan pertentangan yg banyak di dalamnya” [An-Nisaa : 82]

[7] Mungkin di dalam terdpt sesuatu yg mengandung perdebatan, tetapi tdk mungkin mengandung sesuatu yg mustahil. Dalam aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah ada hal-hal yg di luar jangkauan akal, atau tdk mampu dipahami. Seperti seluruh masalah ghaib, adzab dan nikmat kubur, shirath, haudh (telaga), surga dan neraka, serta kaifiyah (penggambaran) sifat-sifat Allah. Akal manusia tdk mampu memahami atau mencapai berbagai persoalan di atas, tetapi tdk menganggap mustahil. Sebalik ia menyerah, patuh dan tunduk kpdnya. Sebab semua datang dari wahyu, yg tdk mungkin berdasarkan hawa nafsu.

[8] Ia ialah aqidah yg universal, lengkap dan sesuai dgn setiap zaman, tempat, keadaan dan umat. Bahkan kehidupan ini tdk akan lurus kecuali dgnnya.

[9] Ia ialah aqidah yg stabil, tetap dan kekal. Ia tetap teguh menghadapi berbagai benturan yg terus menerus dilancarkan musuh-musuh Islam, baik dari Yahudi, Nashrani, Majusi maupun yg lainnya. Ia ialah akidah yg kekal hingga hari kiamat. Ia akan dijaga oleh Allah sepanjang generasi. Tak akan terjadi penyimpangan, penambahan, pengurangan atau penggantian. Betapa tdk, krn Allah-lah yg menjamin penjagaan dan kekalannya. Ia tdk menyerahkan penjagaan itu kpd seorangpun dari mahluk-Nya, Alah berfirman : “Sesungguh Kamilah yg menurunkan Al-Qur’an dan Kamilah yg akan menjaganya”. [Al-Hijr : 9]

[10] Ia ialah sebab ada pertolongan, kemenangan dan keteguhan. Hal itu krn ia ialah aqidah yg benar. Maka orang yg berpegang teguh kpd akan menang, berhasil dan ditolong. Hal itu sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Akan senantiasa ada sekelompok dari umatku yg membela kebenaran, yg tdk akan membahayakan mereka orang yg merendahkan mereka sampai datang keputusan Allah, dan mereka dalam keadaan demikian”. [Hadits Riwayat Muslim 3/1524]. Maka barangsiapa mengambil aqidah tersebut, niscaya Allah akan memuliakan dan barangsiapa meninggalkannya, niscaya Allah akan menghinakannya. Hal itu telah diketahui oleh setiap orang yg membaca sejarah. Sehingga, ketika umat Islam menjauhi agamanya, terjadilah apa yg terjadi, sebagaimana yg menimpa Andalusia (Spanyol) dan yg lain.

[11] Ia mengangkat derajat para pengikutnya. Barangsiapa memegang teguh aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, semakin mendalami ilmu tentangnya, mengamalkan segala konsekwensinya, serta mendakwahkan kpd manusia, niscaya Allah akan meninggikan derajatnya, meluaskan kemasyhura serta keutamaan akan tersebar, baik sebagai pribadi maupun jama’ah. Hal itu krn akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah ialah akidah terbaik yg sesuai dgn segenap hati dan sebaik-baik yg diketahui akal. Ia menghasilkan berbagai pengetahuan yg bermanfaat dan akhlak yg tinggi.

[12] Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah ialah kapal keselamatan. Maka barangsiapa berpegang teguh dgnnya, niscaya akan selamat. Sebalik barangsiapa meninggalkannya, niscaya tenggelam dan binasa.

[13] Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah ialah aqidah kasih sayang dan persatuan. Karena, tdklah umat Islam itu bersatu dalam kalimat yg sama yang datangnya dari Allah di berbagai masa dan tempat kecuali krn mereka berpegang teguh dgn aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Sebaliknya, mereka akan berpecah belah dan saling berselisih pendpt jika menjauh darinya.

[14] Aqidah Ahlus Suannah wal Jama’ah ialah aqidah istimewa karena jalan mereka lurus dan tujuan-tujuan jelas menuju ke aqidah yang satu.

[15] Ia menjaga para pengikut dari bertindak tanpa petunjuk, mengacau dan sikap sia-sia. Manhaj mereka satu, prinsip mereka jelas, tetap dan tdk berubah. Karena itu para pengikut selamat dari mengikuti hawa nafsu, selamat dari bertindak tanpa petunjuk dalam soal wala’ wal bara’ (setia dan berlepas diri dari orang lain), kecintaan dan kebencian kpd orang lain. Sebaliknya, ia memberikan ukuran yg jelas, sehingga tdk akan keliru selamanya. Dengan demikian ia akan selamat dari perpecahan, bercerai berai dan kesia-siaan. Ia akan tahu kpd siapa hrs membenci, dan mengetahui pula hak serta kewajibannya.

[16] Ia akan memberikan ketenangan jiwa dan pikiran kpd pengikutnya. Jiwa tdk akan gelisah, tdk akan ada kekacauan dalam pikirannya. Sebab akidah ini menghubungkan antara orang mukmin dgn Tuhannya. Ia akan rela Allah sebagai Tuhan, Pencipta, Hakim dan Pemuntuk Syari’at. Maka hati akan merasa aman dgn takdir-Nya, dada akan lapang atas ketentuan-ketentuan hukum-Nya, dan pikiran akan jernih dgn mengetahui-Nya.

[17] Tujuan dan amal pengikut aqidah ini mejadi selamat. Yakni selamat dari penyimpangan dalam beribadah. Ia tdk akan menyembah selain Allah dan akan mengharapkan kpd selain-Nya.

[18] Ia akan mempengaruhi prilaku, akhlak dan mua’malah. Aqidah ini memerintahkan pengikut melakukan setiap kebaikan dan mencegah mereka melakukan setiap kejahatan. Ia memerintahkan keadilan dan berlaku lurus serta mencegah mereka dari kezhaliman dan penyimpangan.

[19] Ia mendorong setiap pengikut bersungguh-sungguh dan bersemangat dalam segala sesuatu.

[20] Ia membangkitkan jiwa mukmin agar mengagungkan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Sebab ia mengetahui bahwa Al-Qur’an dan As-Sunnah ialah haq, petunjuk dan rahmat, krn itu mereka mengagungkan dan berpegang teguh pada keduanya.

[21] Ia menjamin kehidupan yg mulia bagi pengikutnya. Di bawah naungan aqidah ini akan terwujud keamanan dan hidup mulia. Sebab ia tegak atas dasar iman kpd Allah dan kewajiban beribadah kpd-Nya, dan tdk kpd yg lain. Dan hal itu -dgn tdk diragukan lagi- menjadi sebab keamanan, kebaikan dan kebahagiaan dunia-akhirat. Keamanan ialah sesuatu yg mengiringi iman. Maka, barangsiapa kehilangan iman, ia akan kehilangan keamanan. Allah berfirman : “Orang-orang yg beriman dan tdk mencampuradukkan iman mereka dgn kezhaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yg mendpt keamanan dan mereka itulah orang-orang yg mendpt petunjuk”. [Al-An’am : 82]. Jadi orang-orang yg bertakwa dan beriman ialah mereka yg memiliki kemanan yg sempurna dan petunjuk yg sempurna pula, baik di dunia maupun di akhirat. Sebaliknya, orang-orang musyrik dan pelaku maksiat ialah orang-orang yg selalu ketakutan. Mereka senantiasa diancam dgn berbagai siksaan di setiap saat.

[22] Aqidah ini menghimpun semua kebutuhan ruh, hati dan jasmani.

[23] Mengakui akal, tetapi membatasi perannya. Ia ialah aqidah yg menghormati akal yg lurus dan tdk mengingkari perannya. Jadi, Islam justru tdk rela jika seorang muslim memadamkan cahaya akalnya, lalu ha bertaklid buta dalam persoalan aqidah dan lainnya. Meskipun begitu, peran akal tetaplah terbatas.

[24] Mengakui perasaan manusia dan membimbing pada jalan yg benar. Perasaan ialah sesuatu yg alami pada diri manusia dan tak seorangpun manusia yg tdk memilikinya. Aqidah ini ialah aqidah yg dinamis, tdk kaku dan beku, ia mengaku ada perasaan manusia serta menghormatinya, tetapi bukan berarti ia mengumbarnya. Sebalik ia meluruskan dan membimbing sehingga menjadi sarana perbaikan dan pembangunan, tdk sebagai alat perusak dan penghancur.

[25] Ia menjamin untuk memberi jalan keluar setiap persoalan, baik sosial, politik, ekonomi, pendidikan atau persoalan lainnya.

Dengan aqidah ini, Allah telah menyatukan hati umat Islam yg berpecah belah, hawa nafsu yg bercerai berai, mencukupkan setelah kemiskinan, mengajari ilmu setelah kebodohan, memberi penglihatan setelah buta, memberi makan dari kelaparan dan memberi mereka keamanan dari ketakutan.

[Tasharrufan (saduran) dari Mukhtasar Aqidah Ahlis Sunnah wal Jama’ah, Syaikh Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd, Buletin AN NUR Thn. IV/No. 139/Jum’at I/R.Awal 1419H]

Oleh : Syaikh Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd

Sumber : http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=884&bagian=0

Mar 9, 2009

Dakwah Salafiyah

Akhir-akhir ini di media elektronik ramai diberitakan tentang peristiwa penyerangan masyarakat Muslimin terhadap apa yang dinamakan pengikut aliran Salafi. Beberapa stasiun televisi mengesankan bahwa apa yang dinamakan Salafi itu adalah salah satu aliran sesat yang berkembang di masyarakat Muslimin di Indonesia. Berita dan sekaligus vonis yang demikian ini sangat menyakitkan hati kami para Salafiyyin (para pengikut aliran Salafi) dan tentu menimbulkan keprihatinan yang mendalam. Ini adalah pencitraan yang dzalim terhadap Da'wah Salafiyah. Saya sebagai salah satu pengikut aliran Salafi, melalui tulisan ini, hendak mengajak segenap pembaca untuk bersikap adil dalam memahami peristiwa di Lombok NTB itu dan kiranya tulisan ini dapat memberikan pencerahan bagi para pemerhati Da'wah Salafiyah di Indonesia.

Da'wah Salafiyah itu ialah perjuangan kaum Muslimin untuk mengajak Ummat Islam memahami serta mengamalkan ajaran Islam sesuai dengan yang dipahami dan diamalkan oleh para Salafus Shalih. Sedangkan Salafus Shalih itu secara bahasa artinya ialah pendahulu kita yang Shalih. Dan yang dimaksud di sini ialah para Shahabat Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa aalihi wasallam, atau dengan kata lain ialah para murid-murid beliau yang belajar agama langsung dari beliau di masa beliau masih hidup di dunia ini, serta beriman kepada beliau dan mati di atas iman. Kemudian juga yang masuk dalam katagori Salafus Shalih ialah generasi Tabi'in, yaitu generasi Ummat Islam yang belajar agama dari para Shahabat Nabi serta mati dalam keadaan mengimani pelajaran yang diterimanya. Selanjutnya generasi yang yang masuk dalam katagori Salafus Shalih ini ialah generasi Tabi'it Tabiin, yaitu generasi Ummat Islam yang belajar agama dari para murid Shahabat Nabi serta mati dalam keadaan mengimani pelajaran yang diterimanya. Kepada tiga generasi inilah (Shahabat,Tabi'in dan Tabi'it Tabi'in) dirujukkan segala pemahaman agama Islam, sebagai pemahaman standar yang sah dan dijamin kebenarannya oleh Allah Ta'ala dan oleh Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa aalihi wasallam. Kita dapati didalam Al Qur'an firman Allah Ta'ala yang artinya :

"Dan orang-orang yang terdahulu masuk Islam dari kalangan Muhajirin (yaitu orang-orang Islam di masa Nabi masih hidup di dunia ini yang pindah dari Makkah ke Madinah sebelum pembebasan kota Makkah) dan Anshar (yaitu orang-orang Islam di masa Nabi masih hidup di dunia ini yang tinggal di kota Madinah sebelum kedatangan Muhajirin) dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan cara yang baik, maka Allah ridho kepada mereka dan mereka akan ridho kepada balasan pahala dari Allah. Dan Allah siapkan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya berbagai jenis sungai. Mereka tinggal padanya dengan kekal selama-lamanya. Yang demikian itu adalah keberhasilan yang besar". QS. At Taubah 100.

Ayat ini jelas memuat ketegasan dari Allah Ta'ala yang menyatakan keridhoanNYA kepada pemahaman dan pengamalan Islam dari para Shahabat Nabi dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan cara yang terbaik. Maka tentu yang mengikuti jejak para Shahabat itu dengan cara yang terbaik, adalah para Tabi'in dan Tabi'it Tabi'in. Hal ini karena adanya ketegasan dari sabda Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa aalihi wasallam yang artinya : "Sebaik-baik ummatku, ialah yang segenerasi denganku (yakni Shahabat beliau). Kemudian generasi sesudahnya (yakni Tabi'in), kemudian generasi sesudahnya (yakni Tabi'it Tabi'in)". HR. Bukhari dalam Shahihnya.

Kemudian generasi-generasi sesudahnya dari para Ulama' Ahli Hadits mengikuti jejak para Shahabat Nabi dengan benar dan baik, maka mereka dikatagorikan juga sebagai Salafus Shalih. Seperti Imam Maliki (Malik Anas Al Asbahi), Imam Syafi'i (Muhammad bin Idris As Syafi'i Al Mutthalibi), Imam Hanbali (Ahmad bin Hanbal Adz Dzuhli As Syaibani) dan lain-lainnya. Juga para Fuqaha yang mengikuti jejak para Shahabat Nabi dengan baik, dikatagorikan pula sebagai Salafus Shalih. Seperti Al Imam Hanafi (Nu'man bin Tsabit), Al Imam An Nawawi (Yahya bin Syaraf An Nawawi), dan lain-lainnya. Demikian pula Ahli Tasawwuf yang mengikuti jejak para Shahabat Nabi itu dengan cara yang terbaik, juga dikatagorikan sebagai Salafus Shalih. Seperti Al Imam Al Ghazali (Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad Al Ghazali), Al Imam Sahal bin Abdullah At Tusturi, Al Imam Junaid Al Baghdadi (Junaid bin Muhammad bin Al junaid), Al Imam Abul Hasan Al Asy'ari (Ali bin Ismail Al Asy'ari), Syaikh Al Allamah Abdul Qadir Al Jailani dan lain-lainnya.

Dengan demikian maka jalan yang paling aman dari kesesatan dalam memahami Islam, adalah mengikuti pemahaman serta teladan para Salafus Shalih dalam beriman dan berislam. Namun dalam mengikuti pemahaman mereka, ada problem yang krusial bagi orang yang belum memahami pemahaman tersebut. Sementara mayoritas Ummat Islam di dunia belum mengenal dengan baik pemahaman ini. Problem yang krusial tersebut adalah tentang prinsip agama dalam pemahaman ini yang menyatakan bahwa semua orang mungkin salah dalam memahami agama ini. Yang tidak bisa salah hanyalah Al Qur'an dan Al Hadis yang shahih. Maka semua orang bisa saja dikritik dan pemahamannya dikoreksi oleh dalil agama yang hanya diambil dari Al Qur'an dan Al Hadits. Kritik terhadap pemahaman agama ini akan menjadi masalah besar bagi keumuman Ummat Islam, kalau kritik itu menyangkut para Ulama' besar setingkat Imam Syafi'i atau Imam Abul Hasan Al Asy'ari, atau syaikh Al Allamah Abdul Qadir Al Jailani, atau Imam As Suyuti rahimahumullah. Bahkan bisa jadi kritik itu dianggap sebagai tindakan penghinaan terhadap para Ulama'. Sehingga ummatpun jadi marah besar dan inilah persimpangan jalan bagi Da'wah Salafiyah.

Perjuangan Da'wah Salafiyah akan menyimpang dari misi semula ketika tidak menggunakan Hikmah Da'wah Salafiyah. Bahkan Da'wah Salafiyah akan menjadi ajang kebencian kaum Muslimin ketika para penganjurnya mengabaikan hikmah. Inilah yang diperingatkan oleh Sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu : "Bebicaralah kalian di hadapan manusia sesuai dengan tingkat pengetahuan mereka tentang agama ini. Bila kalian berbicara dengan mereka tanpa mempertimbangkan tingkat pengetahuan mereka, maka apakah kalian senang bila banyak orang mendustakan Allah dan RasulNya ?". Diriwayatkan oleh Al Bukhari dalam Shahihnya. Dan ini pula yang diperingatkan oleh Sayyidina Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu anhu :"Bila anda berbicara dengan orang-orang tentang agama ini, namun pembicaraan anda itu tidak sesuai dengan tingkat intelektual orang-orang tersebut, maka omongan kalian itu akan menjadi fitnah bagi mereka". Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya.

Maka Hikmah Da'wah Salafiyah itu harus mempertimbangkan tingkat pemahaman masyarakatnya sebelum memilih topik materi Da'wah yang dia sampaikan kepada mereka. Agar masyarakat dapat diajak kepada kebenaran pemahaman Salafus Shalih dengan tahapan yang benar dan terhindar dari fitnah kesalah pahaman mereka.

Hal inilah rupanya yang diabaikan oleh segelintir penganjur kepada pemahaman Salafus Shalih di Lombok dan beberapa tempat lainnya di Indonesia. Akhirnya da'wahnya menjadi pemicu amuk masa. Dan kemudian media yang meliput peristiwa itu memvonis bahwa aliran Salafi itu adalah alirat sesat. Innalillahi wa inna ilaihi raji'un.

Al-Ustadz Ja'far Umar Thalib
Artikel ini dimuat dalam majalah GATRA edisi 5 Maret 2009 rubrik kolom