Widget for website from webstatsdomain

myislam.blogspot.com-Google pagerank and Worth

Dec 9, 2013

20 Perkara/amalan sebagai bukti keimanan

Nasihat Nabi Muhammad SAW

Manusia dalam mengarungi kehidupan ini tidak terlepas dari kesalahan. Hal ini menuntut adanya seseorang yang mau mengingatkan dan menasehati. Pada zaman Rasulullah masih hidup beliau senantiasa menasehati para sahabatnya dengan penuh bijaksana, sehingga nasehat itu bisa masuk dan diamalkan.

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah”. 
(QS. Al-Ahzab: 21)
Al Aqamah berkata, “Wahai Rasulullah, kami memiliki limabelas sifat/perkara, lima perkara yang engkau perintahkan kepada kami, lima perkara yang diperintahkan utusan engkau kepada kami, dan lima sifat yang kami miliki sejak jahiliah dan masih terus kami amalkan, kecuali jika nantinya engkau melarangnya.”

Pernyataan "Kami orang beriman" harus dibuktikan dengan perkara/amalan :

Menyakini Rukun Iman
1. Beriman kepada Allah 
2. Percaya kepada Malaikat-Nya
3. Percaya kepada Kitab-kitab-Nya
4. Percaya kepada Rasul-rasul-Nya
5. Percaya kepada takdir Allah yang baik maupun yang buruk

Mengerjakan Rukun Islam
6. Bersaksi bahwa tidak ada illa selain Allah, dan bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah
7. Mendirikan sholat wajib
8. Mengerjakan shaum di bulan Ramadhan
9. Menunaikan zakat
10. Berhaji jika mampu

"Yang masih dibiasakan sejak jaman Jahiliyah"
11. Bersyukur di waktu senang
12. Bersabar di waktu kesusahan
13. Berani di waktu perang
14. Ridho pada waktu ditimpa ujian
15. Tidak merasa gembira dengan sesuatu musibah yang menimpa musuh.

"Nabi SAW membenarkan dan memuji mereka ini, beliau bersabda, 
“Kalian adalah orang-orang yang faqih dan beradab, hampir saja kalian seperti nabi-nabi karena sifat-sifat kalian yang begitu indahnya. 
Dan Nabi SAW menambahkan lima wasiat, agar Allah SWT menyempurnakan bagi kalian sifat-sifat kebaikan kalian, yaitu :
16. Janganlah menimbun sesuatu yagn tidak akan kalian makan
17. Janganlan kalian mendirikan rumah yang tidak akan kalian tempati
18. Janganlah kalian berlomba-lomba dengan sesuatu perkara yang bakal kalian tinggalkan
19. Takutlah kepada Allah, yang pada suatu hari nanti kalian akan dikumpulkan di hadapanNya 
20 Berusaha untuk mencari bekal bagi kehidupan akhirat

Sumber : 
- Tabloid Masjid edisi 01, Muharram 1435H
http://percikkisahsahabat.blogspot.com/2012/02/al-aqamah-bin-harits-ra.html
http://sambungrasa.wordpress.com/2009/03/13/lima-nasehat-rasulullah/


May 23, 2013

Tidak Ada Puasa Khusus di Bulan Rajab, Laksanakan shaum Senin-Kamis atau shaum Dawud


Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam teruntuk Rasulullah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.

Bulan Rajab merupakan salah satu dari bulan haram yang telah Allah sebutkan dalam firman-Nya:
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْراً فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ
"Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu."  (QS. Al-Taubah: 36)
Empat bulan haram tersebut adalah: Rajab, Dzulqa'dah, Dzulhijjah, dan Muharram. Disebutkan dalam Shahihain, bahwa Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam saat berkhutbah pada haji Wada' mengatakan,
إِنَّ الزَّمَانَ قَدْ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللَّهُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ثَلَاثٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ
"Sesungguhnya zaman telah beredar sebagaimana yang ditentukan semenjak Allah menciptakan langit dan bumi. Dalam setahun terdapat dua belas bulan diantaranya empat bulan haram; tiga bulan diantaranya berurutan, (keempat bulan haram itu adalah) Dzulqa’dah, Dzulhijjah Muharram dan Rajab bulan Mudhar yang berada diantara Jumada (Akhirah) dan Sya’ban." (HR. Bukhari no. 4662 dan Muslim no. 1679 dari hadits Abu Bakrah Radhiyallahu 'Anhu)
Disebut atau dinamakan dengan bulan haram disebabkan dua perkara: Pertama, karena diharamkan perang di dalamnya kecuali kalau musuh memulainya. Kedua, karena besarnya kehormatan dan keagungan bulan-bulan tersebut sehingga maksiat yang dikerjakan di dalamnya dosanya lebih besar daripada bulan-bulan selainnya. Karena itu Allah melarang kita secara khusus dari melakukan kemaksiatan-kemaksiatan pada bulan-bulan tersebut. Allah berfirman,
فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ
"Maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu."  (QS. Al-Taubah: 36) padahal melakukan kemaksiatan tetap diharamkan dan dilarang sepanjang pada bulan-bulan haram ini dan bulan-bulan selainnya, hanya saja pada bulan-bulan haram ini larangannya lebih kuat.
Syaikh Al-Sa'di rahimahullah menjelasakan tentang maksud larangan berbuat zalim pada ayat di atas, bahwa dhamir (kata ganti) bisa bermakna kembali kepada 12 bulan yang disebutkan, yang maksudnya Allah Ta'ala menjelaskan bahwa Dia telah menjadikannya sebagai ketetapan bagi para hamba supaya mereka mengisinya dengan ketaatan, bersyukur kepada Allah atas kenikmatan-Nya dengan bulan-bulan tersebut, dan memanfaatkannya untuk memberikan kebaikan kepada umat manusia. Karena itu janganlah kalian menzalimi diri sendiri.
Bisa juga dhamir tersebut kembali kepada empat bulan haram, ini larangan khusus bagi mereka dari melakukan kezaliman di dalamnya yang disebutkan bersamaan dengan larangan berbuat zalim pada setiap saat/waktu. Ini untuk menunjukkan kehormatannya yang lebih dan kezaliman di dalamnya dosanya lebih besar daripada di bulan-bulan lainnya. (Taisir al-Sa'di: 373)
. . . Ini untuk menunjukkan kehormatannya (4 bulan haram) yang lebih dan kezaliman di dalamnya dosanya lebih besar daripada di bulan-bulan lainnya. . .
Tidak Ada Puasa Khusus di Bulan Rajab
Kemuliaan bulan Rajab ini disikapi sebagian kaum muslimin dengan menghususkan beberapa ibadah tertentu di dalamnya. Salah satunya adalah puasa. Mereka meyakini ada keutamaan tertentu jika berpuasa pada hari-hari tertentu dari bulan ini. Padahal menetapkan waktu ibadah merupakan perkara tauqifi, tidak diketahui kecuali dengan dalil. Sementara tidak ada hadits shahih marfu’ yang mengkhususkan puasa sunnah di beberapa harinya; baik pada hari pertama, kedua, ketiga, ketujuh, atau pada keseluruhannya.
Sementara hadits-hadits yang menunjukkan adanya puasa model di atas, statusnya maudhu' (palsu). Di antaranya, hadits yang menyebutkan: "Siapa yang puasa tiga hari pada bulan Haram, yaitu hari Kamis, Jum'at, dan Sabtu, maka Allah akan mencatat baginya pahala ibadah 700 tahun," dan dalam riwayat lain, "60 tahun". Hadits lainnya, "Puasa hari pertama dari bulan Rajab merupakan kafarat (penghapus dosa) untuk tiga tahun, pada hari kedua sebagai kafarat untuk dua tahun, lalu pada setiap harinya untuk kafarat selama satu bulan." Hadits yang lain yangtidak kalah masyhur, "Rajab adalah syahrullah (bulan Allah), Sya'ban adalah bulanku (Nabi Muhammad), dan Ramdlan adalah bulan umatku." Semua riwayat ini adalah palsu dan dusta.
Memang terdapat hadits dari Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam yang menunjukkan anjuran berpuasa pada bulan-bulan haram (Rajab dan tiga bulan haram lainnya):
صُمْ مِنْ الْحُرُمِ وَاتْرُكْ
"Puasalah pada bulan-bulan Al Hurum (bulan Rajah, Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram, -Penerj.) dan hentikanlah (beliau mengucapkannya sebanyak tiga kali)." HR. Abu Dawud no. 2428 dan didhaifkan oleh Al-Albani dalam Dhaif Abi Dawud)
Hadits ini –jika shahih- menunjukkan anjuran berpuasa pada bulan haram. Maka siapa yang berpuasa pada bulan Rajab untuk menjalankan hadits tersebut maka ia juga harus berpuasa pada bulan-bulan haram selainnya, maka ini tidak apa-apa. Namun jika menghususkan pada bulan Rajab saja, maka tidak boleh. Wallahu a'lam.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: Adapun puasa Rajab secara khusus, maka hadits-hadits (yang menerangkannya) semuanya dhaif (lemah), bahkan maudhu' (palsu). Tidak ada ulama yang bersandar kepada hadits-hadits tersebut. Ini tidak termasuk dhaif yang boleh diriwayatkan dalam bab fadhail (keutamaan-keutamaan amal), tapi secara umum termasuk hadits-hadits maudhu yang dipalsukan.  .  .
Terdapat di dalam al-Musnad (Imam Ahmad) dan selainnya, satu hadits dari Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam, beliau memerintahkan berpuasa pada bulan-bulan haram: Rajab, DzulQa'dah, Dzulhijjah, Muharram. Maka ini tentang puasa pada empat bulan secara keseluruhan, tidak hanya menghususkan Rajab." (Diringkaskan dari Majmu' Fatawanya: 25/290)
Sedangkan mengisi bulan Rajab dengan puasa sebulan penuh telah diingkari oleh para ulama. Beberapa sahabat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam diantaranya Aisyah, Umar bin Khaththab, Abu Bakrah, Ibnu Abbas dan Ibnu UmarRadhiyallahu 'Anhum Jami’an telah mengingkari orang yang berpuasa penuh di bulan Rajab atau mengkhususkan puasa di bulan Rajab.
Ibnu Rajab berkata, "Adapun puasa, tidak ada keterangan yang sah dari Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam dan para sahabatnya tentang keutamaan puasa khusus pada bulan Rajab."
Diriwayatkan dari Umar bin Khathab radliyallahu 'anhu, bahwa beliau pernah memaksa seseorang untuk membatalkan puasa Rajab dan berkata, "Apa itu (puasa) Rajab? Sesungguhnya Rajab diagungkan oleh orang Jahiliyah, maka ketika datang Islam hal itu ditinggalkan."
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:" Semua hadits yang menyebutkan tentang keutamaan puasa Rajab dan shalat pada beberapa malamnya adalah hadits dusta yang diada-adakan (dipalsukan)." (Lihat al-Manar al-Munif, hal. 96)
Ibnul Hajar berkata dalam Tabyin al-'Ajab bimaa Warada fii Fadhli Rajab hal. 11: "Tidak terdapat dalil shahih yang layak dijadikan hujah tentang keutamaan bulan Rajab dan tentang puasanya, tentang puasa khusus padanya, dan qiyamullail (shalat malam) khusus di dalamnya." 
Sayyid Sabiq rahimahullah dalam Fiqih Sunnah 1/383 mengatakan: "Dan berpuasa Rajab, tidak ada keutamaan yang lebih atas bulan-bulan selainnya, hanya ia termasuk bulan haram. Tidak terdapat keterangan dalam sunnah yang shahih bahwa Puasa tersebut (Rajab) memiliki keistimewaan. Dan hadits yang menerangkan hal itu tidak layak dijadikan argumentasi."
. . . Adapun puasa Rajab secara khusus, maka hadits-hadits (yang menerangkannya) semuanya dhaif (lemah), bahkan maudhu' (palsu). . . (Ibnu Taimiyah)
Syaikh Utsaimin rahimahullah pernah ditanya tentang puasa tanggal 27 Rajab dan shalat malam padanya. Beliau menjawab: "Puasa pada hari ke 27 dari bulan Rajab dan shalat pada malam harinya dengan menghususkan hal itu adalah perkara bid'ah, dan setiap perkara bid'ah (dalam ibadah,-pent) adalah sesat." (Majmu' Fatawa Ibnu Utsaimin: 20/440)
Dalam Fatwa beliau yang lainnya, “Tidak ada keutamaan khusus yang dimiliki oleh bulan Rajab dibandingkan dengan bulan-bulan haram lainnya, tidak dikhususkan umrah, puasa, shalat, membaca Al-Qur'an bahkan dia sama saja dengan bulan haram lainnya. Seluruh hadits-hadits yang menyebutkan keutamaan shalat atau puasa padanya maka derajatnya lemah yang tidak boleh dibangun di atasnya hukum syar’i”
Namun bukan berarti berpuasa sunnah seperti puasa Senin-Kamis, tiga hari setiap bulan, Puasa Dawud, atau puasa mutlak pada bulan Rajab tidak diperbolehkan. Ibnu ShalahRahimahullah berkata, “Tidak ada hadits shahih yang melarang atau menganjurkan secara khusus berpuasa di bulan Rajab maka hukumnya sama saja dengan bulan lainnya yaitu anjuran berpuasa secara umum."
Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Tidak ada larangan demikian pula anjuran secara khusus untuk berpuasa di bulan Rajab akan tetapi secara umum hukum asal puasa adalah dianjurkan." Wallahu a'lam. [PurWD/voa-islam.com] 

Oleh: Badrul Tamam

Dec 21, 2012

Tiga Jawaban Setan dari Hatim Al-Asham

Hatim Al-Asham berkata : "Setiap pagi setan selalu bertanya kepadaku tentang tiga hal"
'Apa yang engkau makan?...
'Apa yang engkau pakai?...
"Dimana tempat tinggalmu?...'
Aku menjawab:
1. 'Aku sedang memakan (membayangkan pahitnya) mati;
2. Yang aku pakai adalah kain kafan;
3. tempat tinggalku adalah kuburan.'
Mendengar jawabanku itu setan langsung lari menjauhiku."

Nama lengkap Hatim Al-Asham adalah Abu 'Abdurrahman Hatim bil Ulwan.  Ada juga yang menyebut Hatim bin Yusuf. Ia seorang ulama besar dalam bidang tasawuf, berasal dari negeri Khurasan. Hatm AL-Asham artinya Hatim yang tuli. Dijuluki demikian karena kisah berikut:

Suatu saat ada seorang wanita datang kepada Hatim utnuk menanyakan suatu masalah. Tiba-tiba wanita itu kentut, sehingga merah wajahnya karena malu. Untuk menutupi rasa malu wanita tersebut, Hatim berkata: Keraskan suaramu, aku kurang bisa mendengar." Mendengar ucapan Hatim itu, wanita tersebut merasa senang dan rasa malunya pun hilang, karena yakin kentutnya pasti tidak terdengar oleh Hatim, padahal pendengaran Hatim masih normal, hanya saja ia berpura-pura tuli agar wanita itu tidak kecewa karena malu. Sejak saat itulah ia lalu dipanggil oleh masyarakatnya dengna sebutan Hatim Al-Asham (orang yang tuli)

Sumber:   Nashaihul Ibad, nasihat-nasihat untuk para hamba menjadi santun dan bijak, karangan Imam Nawawi Al-Bantani (Seri penyejuk hati) Irsyad Baitus Salam- Bandung. Hal.62.

Sep 25, 2012

SAPI BALI mulai 14 juta (Sedia Hewan Qurban untuk wilayah Jabodetabek)

Menyambut hari raya Iedul Adha 1434 H, kami bermaksud mengajukan permohonan untuk menyediakan hewan kurban.  Jenis hewan yang kami sediakan yaitu Sapi (khususnya jenis Sapi Bali) dan Kambing/Domba.  Adapun spesifikasi hewan lengkap dengan harga kami sampaikan terlampir.
Besar harapan kami untuk dapat bekerja sama dengan Masjid/Lembaga/Yayasan yang Bp/Ibu pimpin dalam penyediaan hewan kurban pada Iedul Adha 1434 H ini.
Demikian permohonan kami, atas kerjasama yang baik diucapkan terima kasih.
Wassalamu’alaikum  warahmatullahi wabarakatuh

Hubungi - Lilik Sulistyo 0812 8287 9261 (Wilayah Jabodetabek)
Lokasi Sapi di Jati Melati Pondok Melati - Puri Gading Bekasi 

Jenis SAPI BALI , berat mulai 250 kg             harga mulai 13.000.000 14.000.000,-




Harga di atas sudah termasuk :







1.  Biaya pemeliharaan s/d pengiriman


2.  Biaya pengiriman ke tujuan pembeli (wilayah Jabodetabek)






Catatan:








Hewan Kurban telah dinyatakan sehat oleh Dinas Kesehatan










Keunggulan Sapi Bali :
- Daya tahan terhadap penyakit lebih tinggi
- Pakan non concentrate/ murni rumput (non organik)
- Prosentase karkas tinggi dan kualitas daging baik
- Cita rasa daging lebih lembut dan cenderung manis.


Aug 1, 2012

Derajat Hadist : orang beruntung, Merugi, dan terlaknat

Tentunya kebanyakan kita pernah atau sering mendengar khatib atau penceramah menyampaikan sebuah hadits nabi yang berbunyi seperti ini:
“Barangsiapa yang harinya sekarang lebih baik daripada kemarin maka dia termasuk orang yang beruntung. Barangsiapa yang harinya sama dengan kemarin maka dia adalah orang yang merugi. Barangsiapa yang harinya sekarang lebih jelek daripada harinya kemarin maka dia terlaknat.”

Kebanyakan khatib atau penceramah tidak menyebutkan derajat hadits ini. Oleh karena itu mari kita coba meneliti beberapa riwayat dari hadits ini.

1. Abu Nu’aim Al Ashbahani meriwayatkan di dalam kitab Hilyatul Auliya dari jalan Ibrahim bin Adham, dia berkata: telah sampai kabar kepadaku bahwa Al Hasan Al Bashri bermimpi bertemu Nabi صلى الله عليه وسلم . Dia berkata: “Wahai Rasulullah, berilah aku nasehat.” Lalu Rasulullah menyebutkan hadits yang mirip dengan hadits di atas.

Sanad hadits ini lemah karena sanad antara Ibrahim bin Adham dan Al Hasan Al Bashri terputus karena Ibrahim menggunakan lafazh “telah sampai kabar kepadaku” (balaghani). Bentuk kalimat seperti ini tidak memberi faidah ittishal (bersambung sanad) sampai diketahui siapa yang mengabarkan kisah ini kepada Ibrahim.

2. Diriwayatkan di dalam kitab Musnad Al Firdaus, dari jalan Muhammad bin Sauqah dari Al Harist bin Abdillah Al A’war dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu secara marfu’ (sampai kepada Rasulullah  صلى الله عليه وسلم ).

Sanad riwayat ini sangat lemah karena Al Harits bin Abdillah Al A’war adalah seorang pendusta.

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ad Dailami sebagaimana disebutkan oleh As Sakhawi di dalam kitabnya Al Maqashidul Hasanah. Di sana beliau juga menerangkan tentang kelemahan hadits riwayat Ali bin Abi Thalib ini.

3. Abu Bakar Al Qurasyi meriwayatkan di dalam kitab Al Manamat Al Hasan bin Musa Al Khurasani dari seorang syekh dari Bani Sulaim, dia berkata: “Saya bermimpi bertemu Rasulullah. Lalu saya berkata: ‘Wahai Rasulullah bagaimana kabar anda?’ Nabi menjawab: ‘Saya akan memberimu sebuah hadits.’ Saya katakan: ‘Sampaikanlah hadits itu kepada saya.’ Lalu Nabi menyampaikan hadits di atas.

Sanad hadits ini lemah karena identitas syekh Bani Sulaim itu tidak diketahui (majhul) sehingga tidak bisa dijadikan sebagai hujjah.

4. Hadits ini juga disebutkan oleh Al Ghazali di Ihya ‘Ulumuddin dari Abdul Aziz bin Rawwad. Dia berkata: “Saya bermimpi bertemu Rasulullah. Saya berkata: ‘Wahai Rasulullah, berilah wasiat kepadaku.’

Al Hafizh Al ‘Iraqi di dalam takhrijnya terhadap Ihya ‘Ulumuddin berkata: “Saya tidak mengetahui hadits ini kecuali dari kisah mimpinya Abdul Aziz bin Rawwad, … dst … Hadits ini diriwayatkan oleh Al Baihaqi di dalam kitab Az Zuhd.

Dari beberapa jalan riwayat hadits ini tampak bagi kita akan kelemahan sanad-sanad hadits ini. Selain itu, kisah-kisah ini merupakan mimpi tidur, bukan berupa hadits yang diucapkan langsung oleh Nabi saat beliau masih hidup. Oleh karena itu tidak boleh dikatakan ucapan di atas sebagai sebuah hadits Nabi Saw.

Sumber : ustadz-azmi.acehglobal.com

Apr 18, 2012

Pembagian Sunnatullah (Kuliah Tauhid M Imaduddin Abdulrahim)

Amal shaleh ialah amal yang didukung sunnatullah yang akan mendatangkan kebahagiaan. Sunnatullah ialah sistim nilai yang mengatur 'alam ini


قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللَّهِ الَّتِي أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ قُلْ هِيَ لِلَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا خَالِصَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَذٰلِكَ نُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ ﴿٣٢﴾
(QS Al A'raaf :32) 
Katakanlah: "Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang baik?" Katakanlah: "Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat". Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui.

Sunnatullah terbagi dua yaitu yang diwahyukan dan tidak diwahyukan.
Sunnatullah Yang diWakyukan melibatkan iktiar manusia di dalam proses berlakunya dan punya time response yang panjang jika dibandingkan dengan umur manusia. Sistim nilai ini perlu diimani untuk dipatuhi dan dihayati dalam kehidupan manusia sehari-hari. Karena itu sistim nilai ini disampaikan Allah swt. kepada manusia yang beriman dengna himbauan yang selalu ddimulai dengan : "Wahai orang-orang yang beriman..." Mematuhi sistim nilai ini karena iman kepada Allah semata dinamai amal shaleh yang berdasar pada keikhlasan dan pasti melahirkan kebahagiaan dunia dan akhirat.
Sunnatullah Yang Tidak diWahyukan itu umumnya yang menyangkut alam dunia ini, karena itu dinamai juga dengan hukum alam (laws of nature). Sunnatullah ini tidak melibatkan kemerdekaan atau ikhtiar manusia didalam proses berlakunya, dan time response (waktu yang berlaku antara terjadinya akibat sesudah terjadinya sebab) tidak panjang jika dibandingkan umur manusia. Oleh karena itu mudah dipelajari dengna pengamatan dan penelitian didalam percobaan-percobaan. Allah swt. dalam Al Qur'an banyak sekali menganjurkan, merangsang dan menggalakkan manusia agar meneliti sunnatullah yang tidak diwahyukan ini dengan menyelidikai alam sekitar kita. Mempelajari sistim nilai inilah yang dinamakan Sains (Science). Melakukan setipa karya berdasarkan sistim nilai ini juga dinamakan amal shaleh. Amal shaleh di bidang ini membutuhkan ilmu yang cukup tentang seluk beluk sistim nilai agar menjadi sukses dan bernilai ibadah kepada Allah SWT.

Jul 14, 2011

Silabus Pengkajian Islam Komprehensif/Holistik Qur'an - Sunnah (5)

Aqidah (Lanjutan)

25. Teori Poltiik Islam
a. Mendirikan Negara Islam atau membangun masyarakat Islam?
b. Seputar Islam, menggunakan Al Qur'an sebagai dasar negara
c. Cara memilih pemimpin dalam keluarga, masyarakat dan negara

26. Iman, Hijrah, Jihad
a. Makna Iman
b. Faktor penentu Iman (10:100)
c. Kriteria Iman yang Benar
d. Makna Hijrah (8:72-78)
e. Keharusan Hijrah
f. Hijrah Rasulullah saw.
g. Makna Jihad fi Sabilillah
h. Tiga Bentuk Jihad
i. Urgensi Jihad

27. Mengapa umat Islam mengalami kemunduran
a. Perpecahan politik (25:30)
b. Meninggalkan Al Qur'an (17:36)
c. Taklid buta
d. Masa Keemasan dan kemunduran umat Islam
e. Perpecahan-perpecahan dalam Islam, sejarah dan dampaknya.

28. Bekal menghadapi Alam Barzah/Kematian
a. Jangan memubadzirkan umur (23:100)
b. Maksimalkan amal kebaikan, jangan sampai Raport amal KOSONG (18:103-106)
c. Segera taubat, sebelum jal menjemput (4:18)
d. Perbaiki amal shalih, jangan sampai yang kita anggap amal shalih itu ternyata tidak salih menurt Allah swt. (35:37)

29. Antara Filsafat dan Agama
a. Makna filsafat
b. Makna Addien (Agama)
c. Keterikatan dan keterpisahan antara filsafat dan agama.

II. SYARI'AH - IBADAH, MUAMALLAH & AKHLAK (Selanjutnya... Insya Allah)